Jumat, 30 April 2021

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

  • Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.  

Jawaban :

A.  Pemimpin pembelajaran adalah seseorang yang menekankan pada komponen-komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Pemimpin pembelajaran tersebut adalah guru. Dalam setiap aspek di dalam ekosistem yang disebut sekolah guru diharuskan bisa melakukan pengelolaan sumber daya yang terdapat di sekolah tersebut. Keberhasilan guru dalam mengelola sumber daya di sekolahnya tentu tidak terlepas dari penggunaan pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

   Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain. Dalam mengatasi tantangan pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi permasalahan perdesaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih menekankan pada kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas, Kretzmann dan Mcknight menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas. Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu: modal manusia, modal social, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, serta modal agama dan budaya.

B.  Hal pertama yang saya lakukan adalah memahami terlebih dahulu bagaimana menjadi pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya termasuk memahami bagaimana melakukan pendekatan berbasis asset dan memetakan kekuatan sekolah berdasarkan 7 modal. Langkah berikutnya adalah mengkomunikasikan apa yang telah saya pelajari terkait materi ini di forum rapat dengan terlebih dahulu saya mengkomunikasikan dengan kepala sekolah tentang materi ini. Kemudian melakukan pemetaan kekuatan sekolah berdasarkan 7 modal: modal manusia, modal social, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, serta modal agama dan budaya. Selanjutnya, mengelola sumber daya yang telah dipetakan tersebut dan memanfaatkan dalam skala kecil terlebih dahulu yaitu pembelajaran di kelas kemudian memanfaatkan dalam melakukan perencanaan kegiatan di sekolah. Langkah berikutnya adalah berkolaborasi dengan rekan guru untuk meminta masukan dan umpan balik terkait pemetaan berbasis asset yang sudah saya lakukan.

  • Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungannya pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

Jawaban :

Melalui adanya kolaborasi dengan rekan guru ketika meminta umpan balik terkait pemetaan berbasis asset tersebut maka akan membentuk sebuah teamwork. Hal ini memiliki hubungan erat, dengan adanya pengelolaan sumber daya yang baik maka akan mendukung pembelajaran yang bervariasi yang sesuai dengan kebutuhan murid di mana murid akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dan ini merupakan satu proses yang akan membuat pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

  • Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan materi lain yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak.

Jawaban :

Sebagaimana pada sintesis materi sebelumnya, pembelajaran setiap modul di pendidikan guru penggerak ini saling berkaitan dan berkesinambungan. Contoh pada pembelajaran modul pemimpin pengelolaan sumber daya ini yaitu ketika guru akan menentukan akan menggunakan sumber daya mana yang akan digunakan dalam pembelajaran maka guru telah mempertimbangkan bahwa sumber daya pembelajaran harus sesuai dengan pembelajaran yang berpihak pada murid berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, memasukkan unsur budaya positif pada pengelolaan sumber daya dan memposisikan diri guru sebagai pemimpin pembelajaran.

  • Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti pelatihan terkait modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Jawaban :

Sebelum :

Sebelum mempelajari modul ini saya lebih banyak menggunakan pendekatan

berbasis masalah ketika menghadapi sebuah kesulitan itu berarti saya masih belum memahami bagaimana menjadi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dan manajemen sekolah.

Sesudah :

Materi pada modul 3.2 ini saya mampu memahami bagaimana menggunakan pendekatan berbasis asset dan memetakan kekuatan sekolah berdasarkan 7 modal sehingga jika dibandingkan sebelumnya, saya lebih memahami bagaimana menjadi pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya.

 

Rabu, 21 April 2021

3.2.a.7. Refleksi Terbimbing - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

1. Apa yang menarik dari proses dan hasil pemetaan tentang sumber daya di daerah untuk sekolah Anda?

Yang menarik yakni saya bisa mengetahui apa yang kurang dan apa yang tidak bekerja secara maksimal dengan menggunakan pendekatan berbasis kekurangan atau masalah, disisi lain saya juga melihat pendekatan berbasis aset sangat kompleks, dimana hal tersebut merupakan cara praktis untuk menemukan dan mengenali hal positif yang ada di sekolah serta menjadi inspirasi dan menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

2. Apakah pola pikir yang Anda pikirkan sebelum mempelajari modul ini? Apakah menggunakan pendekatan aset atau masalah?

Pola pikir sebelum mempelajari modul ini selalu berbasis masalah, selalu berusaha mencari kekurangan apa yang ada di sekolah tanpa mempertimbangkan sisi kekuatan yang bisa saja timbul diantara kekurangan atau masalah yang terjadi.

3. Jika ada perubahan? Sebutkan apa perbedaannya dan mengapa itu berubah?

Ada, Jelas sekali ada perubahan pola pikir disana, dimana tadinya saya hanya berfokus dengan pendekatan berbasis kekurangan atau masalah ternyata disisi lain ada pendekatan yang juga jauh lebih efektif, adapun perbedaannya yakni Pendekatan berbasis kekurangan selalu berfokus pada masalah dan isu, fokus mencari sponsor dan bantuan sedangkan pendekatan berbasis aset lebih kepada fokus pada aset dan kekuatan serta mempu mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya yang dimiliki sekolah. semua berubah karena adanya pola pikir yang senantiasa berkembang untuk maju.

4. Apa yang perlu Anda lakukan jika Anda dapat terus berpikir dengan pendekatan berbasis aset?

Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan, melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan, dan mencoba selalu menemukan serta mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, berusaha konsisten memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, menjadikan sebagai inspirasi yang menjadi kekuatan dan potensi positif.

5. Buatlah  kata yang bisa menggambarkan apa yang Anda rasakan saat ini terkait pembelajaran lalu.

Ternyata kita sebagai pemimpin pembelajaran tidaklah harus selalu berfokus kepada pendekatan berbasis kekurangan atau masalah yang ada di sekolah karena nyatanya pengelolahan sumber daya bisa dimaksimalkan dengan pendekatan berbasis aset dan kekuatan yang dimiliki oleh sekolah. Fokus pada aset dan kekuatan, membayangkan masa depan, berpikir akan kesuksesan yang telah diraih, mampu mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya, merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan serta melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan merupakan inti utama dari pendekatan berbasis aset itu sendiri.

Minggu, 11 April 2021

Modul 3.1.a.8.1. Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi

 -        Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Perguruan Taman Siswa memiliki pedoman bagi seorang guru yang disebut Patrap Triloka. Konsep yang sangat populer ini dikembangkan oleh Suwardi Suryaningrat (nama lain Ki Hajar Dewantara), yakni : Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/kemauan/semangat), Tut wuri handayani (dari belakang mendukung). Hal inipun juga tidak lepas dari zaman sekarang ini yang dimana serba modern dan filosofi diatas sangat masih kontekstual untuk diterapkan, meneladani filosofi Pratap Triloka dalam mengambil keputusan merupakan ciri dari seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran.

 

-        Nilai dan Peran Guru Penggerak

Pada penerapan Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran, Nilai dan Peran Guru Penggerak menjadi sangat penting. Nilai dan peran guru, yang Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, dan Berpihak pada anak, menjadi dasar yang sangat kuat bagi guru untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang Merdeka Belajar.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Disetiap pengambilan keputusan berpegang pada prinsip-prinsip yang berpihak kepada murid, seorang pemimpin pembelajaran harus mampu memahami perannya sebagai pendidik, mampu membangun motivasi intrinsik dalam diri maupun bagi murid.        

- Visi Guru Penggerak

Guru dapat mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid merdeka yang memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi? Maka atas pertanyaan itulah, guru perlu terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Dari sana, baru kemudian dilanjutkan dengan segala upaya gotong-royong yang diperlukan demi pencapaian harapan bersama tersebut. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan murid kita. Masa depan murid kita adalah masa depan bangsa kita, Indonesia.


-        Budaya Positif

Pendidikan dalam masa pandemi masih memunculkan banyak masalah karena fasilitas yang kurang memadai. Disini saya akan memunculkan budaya positif. Untuk menjadikan kebiasaan positif di kelas menjadi sebuah budaya sekolah dan visi sekolah tentunya dibutuhkan pemikiran dan kesepakatan bersama yang digali dari ide yang dicapai bersama yang dituangkan berdasarkan mimpi-mimpinya, nilai-nilai yang diyakini oleh warga sekolah, dan impian normatif kolektif warga sekolah. Masing-masing guru dapat menyampaikan praktik baik yang sudah dilakukan di kelasnya masing-masing untuk kemudian sekiranya baik dapat diadopsi dan diadaptasi menjadi praktik baik sekolah. Dari hal tersebut kita dapat menggali nilai-nilai budaya positif dan kebiasaan positif apa yang menjadi budaya positif sekolah untuk kemudian dituangkan secara tertulis menjadi visi sekolah.

-        Pembelajaran Berdeferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  • Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  • Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajarannya namun juga muridnya.
  • Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
  • Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  • Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

-        Pembelajaran Sosial dan Emosional

Memiliki kecerdasan intelektual tidak cukup menjadikan seseorang akan menjadi sukses, karena disaat kita tidak memiliki sosial-emosional yang baik maka kita tidak dapat melakukan interaksi yang baik pula dengan orang lain. Demikian sebaliknya disaat sosial emosional baik maka kita akan dapat mengatur segala macam emosi (sedih, gembira, haru, tawa, simpati, empati) yang keluar di waktu yang tepat. Maka dengan demikian Kesuksesan tidak hanya di dapatkan dari pendidikan yang tinggi atau nilai akademik yang tinggi. Namun Kesuksesan bisa di dapat dari rasa sosial-emosional yang baik sehingga dengan demikian ia akan bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitarnya.

Pembelajaran sosial emosional adalah proses pembelajaran yang dimulai dengan pembentukan kesadaran dan kontrol diri serta kemampuan dalam berkomunikasi. Hal ini penting diberikan kepada anak didik agar mereka mampu bertahan  dan sekaligus dapat mengatasi setiap permasalahan sosial emosional yang dialaminya. Pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara latihan berkesadaran penuh (mindfulness). Salah satu latihan diri yang dapat digunakan adalah dengan teknik STOP, yaitu: S: Stop (berhenti sejenak), T: Take a deep break (Menarik nafas dalam), O: Observe (Mengamati apa yang terjadi pada tubuh, pikiran dan perasaan). P: Proceed (Lanjutkan).

Dalam menumbuhkan dan mengembangkan pembelajaran sosial emosional tersebut, ada 5 kompetensi dasar yang dapat dikembangkan yaitu: 1. Kesadaran diri; 2. Pengelolaan diri; 3. Kesadaran sosial (Empati); 4. Keterampilan sosial (Resiliensi) dan 5. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.


-        Coaching

Coaching adalah salah satu praktik pembelajaran yang berpihak kepada murid, couching itu adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. (Grant, 1999).

Couching dapat melejitkan potensi yag dimiliki seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya, diri dan kemampuan serta potensi yang dimilikinya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya, segala solusi dan keputusannya diberikan kepada coachee mana yang menjadi pilihannya, peran coach hanya membantu dan mengarahkan saja.

4 kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang coach, yaitu:

  1.  Keterampilan Membangun proses coaching (terkait dengan Penerapan KSE)
  2.  Keterampilan membangun hubungan baik (terkait dengan nilai dan peran Guru penggerak)
  3. Keterampilan berkomunikasi (terkait dengan filosofi dan pembelajaran berdiferensiasi)
  4. Keterampilan memfasilitasi proses pembelajaran (terkait dengan proses Inquiry apresiatif dan BAGJA)

TIRTA : satu model coaching untuk konteks pendidikan.

Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah.

TIRTA kepanjangan dari T: Tujuan I: Identifikasi R: Rencana aksi TA: Tanggung jawab

Dengan menjalankan metode TIRTA ini, harapannya seorang guru dapat semakin mudah dapat menjalankan perannya sebagai coach dan Praktik coaching sebagai salah satu praktik baik menjadi Budaya positif yang melekat sebagai dedikasi bagi guru yang bisa dilakukan secara menyeluruh pada ekosistem sekolah demi mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang Merdeka Belajar.


Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Teknik coaching sejatinya merupakan teknik komunikasi asertif untuk mengali potensi dan memaksimalkannya yang dimana hal tersebut penting dilakukan  dan diterapkan sebelum pengambilan keputusan, terutama dalam tahap pengujian serta 9 langkah pengambilan keputusan.

-  Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Banyak hal dalam hidup ini yang harus dipikirkan dengan bijaksana terutama berkaitan dengan pengambilan suatu keputusan. Sering kali bertindak terlebih dahulu tanpa memikirkan apakah itu keputusan yang tepat untuk diambil atau tidak. Ataukah keputusan yang akan diambil dapat melukai hati orang lain yang membuat suasana tidak nyaman dalam suasana kerja yang sifatnya adalah kerja team. Akan tetapi dalam mengambil keputusan dengan dalil demi "menyehatkan" diri dan bathin sendiri tanpa memikirkan pendapat dan perasaan orang lain, yang akhirnya memunculkan dilema dalam diri apakah keputusan itu saya lakukan demi kebaikan orang banyak.


Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Ketika kita menghadapi sebuah dilema akan ada nilai-nilai kebajikan yang mendasari yang bertentangan dan harus menjadi pilihan, karena nilai dan prinsip sangat berkaitan erat dan merupakan unsur yang tidak terpisahkan dari prilaku manusia disadari maupun tidak kedua hal inilah yang mendasari seseorang dalam mengambil keputusan.


Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Seorang pemimpin pembelajaran tentunya diharapkan mampu mengambil keputusan yang dapat membawa dampak positif pada terciptanya lingkungan yang kondusif, aman dan nyaman bagi murid sehingga mampu membuat sebuah perubahan yang lebih baik yang dapat mempengaruhi kehidupan di lingkungan sosial di sekitarnya serta dapat menciptakan suasana pembelajaran yang berpusat pada murid agar kedepannya murid dapat merasakan kemerdekaan belajar yang sebenarnya.


Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Adapun kesulitan-kesulitan yang terjadi dapat diatasi dengan menerapkan 4 Paradigma, 3 Prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan itu sendiri. Dengan melibatkan kepala sekolah, rekan guru bahkan warga sekolah demi mendapatkan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan murid.


Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang tepat akan sangat berdampak pada murid, yang dimana peningkatan disiplin dan cara belajar murid dapat dengan instan meningkatkan kualitas mutu sekolah.


Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya karena seorang pemimpin pembelajaran terutama dalam bidang pendidikan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya, guru bisa mengarahkan potensi yang ada pada murid sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya, keputusan yang diambil tentunya adalah keputusan terbaik dan efektif bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri.

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah untuk mewujudkan transformasi pendidikan harus dimulai dari diri sendiri, bagaimana cara kita dalam mengambil suatu keputusan yang tepat dan efektif bagi banyak orang yang tentunya keputusan tersebut memberikan dampak positif baik untuk murid kita, rekan guru maupun lingkungan kita serta pengambilan keputusan hendaknya tetap memperhatikan nilai-nilai kebajikan dan tidak bertentangan dengan paradigma, prinsip maupun langkah-langkah pengambilan keputusan.

Selasa, 06 April 2021

3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual - Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Di sekolahku dikelilingi bukit nan indah serta udara khas pegunungan, semua mata akan terpaku ketika melihat bangunan tua yang nampak begitu kokoh di salah satu bukit diantara deretan puluhan bukit yang menjulang tinggi ke angkasa, semua serba hijau dan elok dipandang siapa saja yang melihatnya, sekolahku tepat di puncak bukit yang lerengnya dialiri sungai yang sungguh menyejukan hati, tidak hanya pemandangannya saja yang membuat siapa saja akan jauh cinta kepadanya tapi penduduk di sekitaran lerengpun mempunyai adat dan tata krama yang terbilang sangat indonesia sekali, ramah, baik dan sungguh membuat siapa saja yang berkunjung kesana akan betah dengan perlakuan mereka.

Ya, Saya merupakan seorang guru di sekolah yang di maksudkan diatas, keren memang tiap hari menikmati pemandangan yang tidak semua orang bisa merasakannya. Jiwa seni yang mengalir di dalam darah terkadang tidak bisa menahan untuk tidak mengoreskan garis-garis eksotik di media apa saja. Maklum saja saya adalah guru seni budaya yang semasa kuliah bergelut di Seni Rupa yang tidak sedikit mendapat cibiran sana sini dengan penampilan yang selegean dan tidak terlalu memperdulikan penampilan, tapi itu dulu sebelum saya menyadari bahwasanya seni itu indah dan keindahan itu sejatinya juga harus dimiliki oleh orang yang mencintai keindahan.

Saya sangat bersyukur bisa mengabdi untuk bangsa ini dan mencerdaskan generasi di pelosok negeri. bahkan Ini yang menjadi alasan diantara beberapa alasan saya mengikuti program guru penggerak yang merupakan salah satu program unggulan Kementrian Pendidikan saat ini. Program guru penggerak ini amat sangat bagus yang dimana para guru yang lolos seleksi akan menjalani pendidikan selama 9 bulan lamanya, Program Guru Penggerak ini adalah program terpenting di dalam Kemendikbud. Kenapa? Karena mau sebaik apapun teknologi pendidikan, sebaik apapun kurikulum dan juga infrastruktur pendidikan yang ada, tidak ada yang bisa menggantikan peran guru penggerak untuk mentransformasi budaya sekolah kepada pembelajaran yang fokus pada pembelajaran peserta didik, keren memang dan sampai saat ini saya sangat menikmati setiap modul yang diberikan, tapi tak pelak rasa jenuh terkadang hadir di dalam benak tapi tidak mengapa itu malah wajar anggapan saya.

Sudah hampir pertengahan kegiatan pelatihan ini, jujur ada banyak hal yang ingin saya bagi dengan rekan guru di sekolah, berdiskusi dengan Kepala Sekolah serta membuat perubahan-perubahan kecil yang positif dan bisa menjadi habits bagi sesama. Terbesik pertanyaan “Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?”, Saya akan mencoba berunding dengan kepala sekolah mengenai materi program guru penggerak lalu saya akan meminta kepala sekolah untuk memberi saya waktu untuk mensosialisasikan materi tersebut kepada rekan guru yang ada di sekolah saya. Setelah saya mensosialisasikan program ini insya Allah saya akan mencoba menerapkan materi yang telah saya dapat dari program guru penggerak di dalam kelas saya sendiri. Keren bukan?

Kemudian pertanyaan berikutnya, “Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?”, Langkah pertama saya akan melakukan pengambilan keputusan pada masalah diri saya sendiri terlebih dahulu. Di mana saya akan mencoba menggunakan paradigma, prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang telah saya pelajari pada modul 3.1. di pada setiap mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran alangkah baiknya juga melakukan serta mengenali nilai-nilai yang ada menentukan siapa yang terlibat, fakta apa yang relevan, melakukan beberapa pengujian termasuk pengujian paradigma dan melakukan tiga prinsip yang ada, dan terpenting tentunya dengan berkolaborasi bersama rekan sejawat mulai dari merencanakan sebuah program, melaksanakan program, hingga evaluasi program itu sendiri, dan hal ini juga akan saya terapkan di komunitas praktisi saya di sekolah. Bagaimana, luar biasa bukan modul yang kami pelajari di Program guru penggerak ini, dan terkhusus saya memberikan kredit poin lebih kepada Kementrian Pendidikan terkait Progam Merdeka Belajar Episode 5 ini, menjadi kebangga dari bagian Angkatan I dari Kabupaten Polewali Mandar,

Kemudian, “Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa?”, Saya akan menerapkan langkah tersebut untuk rencana jangka pendek yaitu setelah usai ujian akhir sekolah kelas IX, karena saat ini waktu cukup mepet dimana program-program guru penggerak yang lain juga mengantri untuk segera diselesaikan, tidak ada keluhan disana karena ini adalah kewajiban yang sejatinya harus dituntaskan, dan kembali lagi dalam jangka panjang saya akan menerapkan langkah-langkah tersebut di awal tahun ajaran baru pada tahun pembelajaran 2021/2022, semoga pandemi ini segera berakhir, tetaplah berpikir positif dan jangan sampai menjadi positif (Covid-19), saya selalu mengatakan hal ini disetiap kesempatan.

Lalu, “Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif”, saya akan meminta bantuan penanggung jawab sekolah yakni kepala sekolah untuk menjadi pendamping saya dalam menerapkan pengambilan keputusan ini. Teruntuk teman diskusi, saya akan berdiskusi dengan rekan sejawat saya dalam komunitas praktisi, meminta memberikan refleksi, menimbang apakah keputusan yang saya ambil telah tepat dan efektif, sehingga saya dapat mengambil keputusan yang terbaik.

            Dalam hal apapun kita semestinya bisa berbuat lebih ketika kita yakin dengan apa yang kita jalani, tidak pelak juga saya terkadang di pelatihan guru penggerak ini sedikit ragu dengan kemampuan yang saya punya tapi berkat orang-orang yang sangat positif di sekitar saya, terlebih Bapak Sutarji sebagi Fasilitator terbaik PPPP4TK PENJASBK, selalu memberikan aura positif ke saya disetiap kesempatan yang ada, dan itu jujur itu mampu mengeluarkan kemampuan terbaik yang saya miliki dan bahkan saya sendiripun sempat tidak menyangka mempunyai tekad dan sekuat ini sebelumnya.

Masih ada setengah jalan lagi untuk menyelesaikan misi yang mulia ini, yang diawal telah mengajarkan budi pekerti yang luhur, mengajarkan saya  nilai dan peran yang sebenarnya menjadi seorang guru, menentukan dan menerapkan visi yang baik, mengetahui budaya positif yang masih terkadang saya acuhkan di sekolah, mempelajari karakter-karekter peserta didik di kelas, sampai sedikit tercengang ketika mengetahui sosial dan emosional yang sebenarnya yang diperlukan oleh guru biar bisa menjadi guru yang keren di depan kelas, mengatasi segala problema yang didalam benak dan berusaha mengeluarkannya serta mencurahkan perasaan itu dengan teknik coaching yang sayapun sempat dibuat melongo dengannya, dan kali ini pengambilan keputusan, saya tidak punya kata-kata yang lain lagi untuk program seepic ini dengan modul-modul yang sungguh diluar dugaan saya akan sekece ini. Tidak sabar rasanya menyelesaikan semua pembelajaran dan berteriak sekencang-kencangnya “Yeee, Mission Complete”.